Komunikasi efektif adalah proses komunikasi yang dilakukan dengan metode yang tepat. Secara luas memang bisa dipahami bahwa penggunaan metode yang te-pat tentu didasari oleh banyak pertimbangan tentang efektifitas itu sendiri terlebih dahulu. Berusaha benar-benar mengerti orang adalah dasar apa yang disebut emphatetic communication (komunikasi emphatik). Ketika kita berkomunikasi de-ngan orang lain. Bentuk komunikasi tertinggi adalah komunikasi empatik, yaitu me-lakukan komunikasi untuk terlebih dahulu mengerti orang lain, memahami karakter dan maksud/tujuan atau peran orang lain.
Integritas adalah pondasi utama dalam membangun komunikasi yang efektif. Karena tidak ada persahabatan tanpa ada kepercayaan (trust), dan tidak ada keper-cayaan tanpa integritas. Kita perlu memperhatikan apa yang oleh ahli komunikasi adalah “hukum”, ada 5 hukum komunikasi yang efektif yaitu:
Hukum 1: Respect
Hukum pertama adalah mengembangkan komunikasi yang efektif ada-lah sikap menghargai setiap individu yang menjadi sasaran pesan yang kita sampaikan
Hukum 2: Empathy
Empathy adalah kemampuan kita untuk menempatkan kita untuk me-nempatkan diri kita pada situasi atau kondisi yang kita yang dihadapi orang lain.salah satu persyaratan utama dalam memilki sikap empathy adalah kemampuan kita untuk mendengar dan mengerti terlebih dulu sebelum didengarkan atau dimengerti orang lain.
Hukum 3: Audible
Makna dari Audible antara lain: dapat didengarkan atau dimengerti de-ngan baik. Jika empathy kita harus mendengar terlebih dahulu ataupun sebaliknya, maka Audible berarti pesan yang kita sampaikan dapat diterima oleh penerima pesan.
Hukum 4: Clarity
Selain bahwa pesan harus dapat dimengerti dengan baik, maka hukum keempat yang terkait dengan itu adalah kejelasan dari pesan itu sendiri sehingga tidak menimbulkan multi interprestasi atau berbagai penaf-siran yang berlainan.
Hukum 5: Humble
Hukum kelima dalam membangun komunikasi efektif adalah sikap ren-dah hati. Rendah hati tidak sama dengan rendah diri. Sikap ini merupa-kan unsur yang terkait dengan hukum yang pertama untuk membangun rasa menghargai orang lain, biasanya didasari oleh sikap rendah hati yang kita miliki.
Jika komunikasi yang kita bangun didasarkan dengan lima hukum pokok ko-munikasi yang efektif ini, maka kita dapat menjadi komunikator yang handal dan pa-da gilirannya dapat membangun jaringan hubungan dengan orang lain yang penuh dengan penghargaan (respect), karena inilah yang dapat membangun hubungan jangka panjang yang saling menguntunggkan dan saling menguatkan.
Sabtu, 07 November 2009
Al-Qur'an & Hadist
Al –Qur’an adalah qalam ilahi yang dibawah oleh malaikat jibril dan disam-paikan oleh Nabi Muhammad SAW. Allah SWT telah menjaga Al-Qur’an yang agung ini dari upaya merubah, menambah, mengurangi atau menggantikannya, Allah telah menjamin akan menjaganya sebagaimana dalam firman-Nya “Sesung-guhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Qur’an dan sesungguhnya Kami benar-benar menjaganya” (Al-Hijr:9). Oleh karena itu, selama berabad-abad Al-Qur’an di-turunkan namun tak satupun musuh-musuh Allah yang menggantikannya. Al Qur’an dibukukan karena jika ayat Al-Qur’an dikumpulkan berurutan sesuai de-ngan waktu turunnya ayat-ayat Al-Qur’an maka kita akan sulit untuk membacanya karena wahyu turun kepada Rasulullah untuk menjawab pertanyaan dalam menye-lesaikan permasalahan yang terjadi dalam masyarakat saat itu. Yang mengumpul-kan ayat-ayat Al-Qur’an adalah para sahabat nabi yang terpilih dan dijamin masuk surga oleh Allah.
Hadist adalah suatu ucapan atau perkataan Nabi Muhammad SAW dan per-kataan para sahabat Nabi dengan melihat apa yang dilakukan Rasulullah SAW. Hadist dijadikan sumber hukum dalam agama islam selain Al-Qur’an, dimana da-lam hal ini, kedudukan hadist merupakan sumber hukum kedua setelah Al-Qur’an.
Ada beberapa macam hadist yaitu :
• Hadist yang dilihat dari banyak sedikitnya perawi
Hadist Mutawir
Hadist Ahad
Hadist Shahih
Hadist Hasan
Hadist Dha’if
• Menurut macam periwayatnya
Hadist yang bersambung sanadnya (Hadist Marfu’ atau Maushul)
Hadist yang terputus sanadnya
Hadist Mu’allaq
Hadist Mursal
Hadist Mudallas
Hadist Muqathi
Hadist Mu’dhol
• Hadist-hadist Dha’if disebabkan oleh cacat perawi
Hadist Maudhu’
Hadist Matruk
Hadist Mungkar
Hadist Mu’allal
Hadist Mudhthorib
Hadist Maqlub
Hadist Munqalib
Hadist Mudraj
Hadist syadz
• Beberapa istilah dalam ilmu hadist
Muttafaq ‘alaih
Imam Bukhari
Imam Muslim
As Sab’ah
Imam Ahmad
Imam Bukhari
Imam Muslim
Imam Abu Daud
Imam Tirmidzi
Imam Nasa’i
Imam Ibnu Majah
As Sittah
Yaitu 6 perawi yang terdapat pada As Sab’ah kecuali Imam Ahmad
Al Khamsah
Yaitu 5 perawi yang terdapat pada As Sab’ah kecuali Imam Bukhari dan Imam Muslim
Al Arba’ah
Yaitu 4 perawi yang terdapat pada As Sab’ah kecuali Imam Ahmad, Imam Bukhari, dan Imam Muslim.
Ats Tsalatsah
Yaitu 3 perawi yang terdapat pada As Sab’ah kecuali Imam Ahmad, Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Ibnu Majah.
Perawi
Yaitu orang yang meriwayatkan hadist.
Sanad
Penyandaran.
Matan
Adalah hadist baik berupa sabda Nabi Muhammad SAW, mau-pun berupa perbuatan Nabi Muhammad SAW yang diceritakan oleh sahabat Nabi.
Al-Qur’an dan Hadist adalah dua pedoman yang tidak dapat dipisahkan dari saat kita tidur, saat kita bangun dari tidur hingga kita tertidur lagi dan manusia juga tidak boleh keluar dari rambu-rambu Al-Qur’an dan Hadist.
Hadist adalah suatu ucapan atau perkataan Nabi Muhammad SAW dan per-kataan para sahabat Nabi dengan melihat apa yang dilakukan Rasulullah SAW. Hadist dijadikan sumber hukum dalam agama islam selain Al-Qur’an, dimana da-lam hal ini, kedudukan hadist merupakan sumber hukum kedua setelah Al-Qur’an.
Ada beberapa macam hadist yaitu :
• Hadist yang dilihat dari banyak sedikitnya perawi
Hadist Mutawir
Hadist Ahad
Hadist Shahih
Hadist Hasan
Hadist Dha’if
• Menurut macam periwayatnya
Hadist yang bersambung sanadnya (Hadist Marfu’ atau Maushul)
Hadist yang terputus sanadnya
Hadist Mu’allaq
Hadist Mursal
Hadist Mudallas
Hadist Muqathi
Hadist Mu’dhol
• Hadist-hadist Dha’if disebabkan oleh cacat perawi
Hadist Maudhu’
Hadist Matruk
Hadist Mungkar
Hadist Mu’allal
Hadist Mudhthorib
Hadist Maqlub
Hadist Munqalib
Hadist Mudraj
Hadist syadz
• Beberapa istilah dalam ilmu hadist
Muttafaq ‘alaih
Imam Bukhari
Imam Muslim
As Sab’ah
Imam Ahmad
Imam Bukhari
Imam Muslim
Imam Abu Daud
Imam Tirmidzi
Imam Nasa’i
Imam Ibnu Majah
As Sittah
Yaitu 6 perawi yang terdapat pada As Sab’ah kecuali Imam Ahmad
Al Khamsah
Yaitu 5 perawi yang terdapat pada As Sab’ah kecuali Imam Bukhari dan Imam Muslim
Al Arba’ah
Yaitu 4 perawi yang terdapat pada As Sab’ah kecuali Imam Ahmad, Imam Bukhari, dan Imam Muslim.
Ats Tsalatsah
Yaitu 3 perawi yang terdapat pada As Sab’ah kecuali Imam Ahmad, Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Ibnu Majah.
Perawi
Yaitu orang yang meriwayatkan hadist.
Sanad
Penyandaran.
Matan
Adalah hadist baik berupa sabda Nabi Muhammad SAW, mau-pun berupa perbuatan Nabi Muhammad SAW yang diceritakan oleh sahabat Nabi.
Al-Qur’an dan Hadist adalah dua pedoman yang tidak dapat dipisahkan dari saat kita tidur, saat kita bangun dari tidur hingga kita tertidur lagi dan manusia juga tidak boleh keluar dari rambu-rambu Al-Qur’an dan Hadist.
Kamis, 10 September 2009
materi 3 Agama
PENGERTIAN AMANAT MENURUT ISLAM
Allah SWT berfirman dalam surat An-Nisaa’ Ayat 58:
Sesungguhnya Allah menyuruhmu menyampaikan amanat kepada
yang berhak menerimanya, dan jika kamu menetapkan hukum diantara
manusia hendaklah kamu berlaku adil. Sesungguhnya Allah telah
memberikan pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Dan Allah Maha
Medengar lagi Maha Melihat.
Ayat ini diwahyukan dalam keadaan yang sangat menarik. Seperti
diketahui bahwa sebelum penaklukan Makkah, kunci Baitullah (yakni
33
Ka’bah) dipegang oleh Utsman bin Thalhah. Pada waktu penaklukan
Makkah Nabi Muhammad SAW meminta Utsman bin Thalhah untuk
menyerahkan kunci-kunci itu kepada beliau. Utsman pun menyerahkan
kunci-kunci itu dengan enggan/ogah-ogahan seraya berkata, “Ini amanat
untukmu.” Kemudian Rasulullah SAW membuka pintu Ka’bah dan
mengeluarkan semua berhala yang ada di dalam Rumah Allah SWT itu.
Pada waktu itu, Abbas RA (paman Rasulullah) dan Ali RA meminta agar
kunci-kunci itu disimpan oleh keluarga Rasulullah. Beliau tidak
memberikannya. Sebagaimana diriwayatkan oleh Umar RA, Rasulullah
SAW keluar dari Baitullah membacakan Ayat-58 Surat An-Nisaa’. Beliau
mengembalikan kunci-kunci itu kepada Utsman bin Thalhah. Hal ini
mengejutkan Utsman, mengingat sebagai Penakluk, Rasulullah SAW bisa
tetap menyimpan kunci itu selamanya. Utsman menjadi begitu tergerak
hatinya oleh perilaku Nabi Muhammad SAW dan serta merta memeluk
Islam.
Anas RA meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad SAW selalu
menekankan pentingnya memenuhi janji/kesepakatan. Anas RA berkata
bahwa Nabi SAW jarang sekali memberikan khutbah tanpa menyebutkan
pesan berikut ini:
“Barang siapa mengkhianati amanat yang diberikan kepadanya,
sungguh ia tidak memiliki sedikitpun keimanan didalam dirinya. Barang
siapa ingkar terhadap janjinya, ia tidak memiliki citarasa hidup Islami.”
Diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA dan Umar RA didalam ‘Bukhari
dan Muslim’ bahwa, ketika menguraikan tanda-tanda orang munafik Nabi
Muhammad SAW bersabda, “Ia mengkhianati amanat yang diberikan
padanya.” Allah SWT menyebutkan beberapa prasyarat untuk masuk
surga didalam Surat Al-Mu’minun dan Al-Ma’arij. Sebagai contoh, berikut
ini adalah prasyarat yang terdapat dalam firman Allah SWT, Surat Al-
Ma’arij ayat 32-35.
Dan mereka yang menepati amanat-amanat dan janji-janjinya.
Merekapun teguh dengan kesaksian (syahadah)-nya. Mereka memelihara
shalatnya (dengan benar dan khusyu’). Mereka akan (kekal) di Surga lagi
dimuliakan.
Jadi, menepati janji atau menjaga amanat adalah serupa dengan
mengerjakan shalat dengan benar. Nabi Muhammad SAW juga bersabda
bahwa “Bermusyawarah di masyarakat hendaklah
menunjukkan sikap amanah yang menyeluruh diantara mereka.” Maka apa
yang menjadi isi musyawarah tidak boleh disampaikan kepada orang yang
tidak berkepentingan.
Serupa dengan diatas, Rasulullah SAW bersabda, “Siapapun yang
dimintai pertimbangan/nasehat hendaklah melakukannya dengan sikap
34
amanah sepenuhnya". Hendaklah ia memberikan nasehat
yang terbaik dan bermanfaat. Janganlah dengan sengaja memberi
nasehat yang salah/menyesatkan karena kalau itu dilakukannya maka ia
telah merusak kepercayaan yang diberikan. Begitu juga jika seseorang
berbagi rahasianya denganmu janganlah dibuka rahasia itu kepada orang
lain tanpa sepengetahuannya.
Marilah kita lihat bagaimana para sahabat Rasulullah SAW
menghadapi situasi seperti diatas. Ingatlah selalu bahwa para sahabat
itupun manusia biasa seperti kita dan bisa saja ‘terpeleset’ sebagaimana
manusia yang lain. Allah SWT menyebutkan situasi khusus didalam Surat
Al-Anfaal Ayat 27, 28:
Wahai orang-orang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah
dan Rasul-Nya dan jangan pula kamu mengkhianati amanat-amanat yang
dipercayakan kepadamu sedangkan kamu mengetahui. Dan ketahuilah
bahwa hartamu dan anak-anakmu adalah ujian bagimu dan sesungguhnya
disisi Allah ada pahala yang besar.
Banyak ulama mengatakan bahwa ayat ini merujuk pada satu situasi
tertentu dimana Nabi Muhammad SAW sedang mengepung Bani Quraiza
yang telah mempersenjatai diri dan membangun pertahanan diluar
perbatasan Madinah. Konflik ini berlangsung selama 21 hari, sampai
habisnya perbekalan musuh. Suku ini kemudian meminta ijin kepada
Rasulullah SAW untuk pergi ke Suriah (Syria). Beliau menolak karena
mengetahui bahwa kaum Yahudi tentu akan menyesatkan mereka ketika
berada di Syria. Beliau kemudian memberitahu mereka bahwa hendaknya
mereka menerima keputusan apapun yang diambil oleh Sa’ad bin Muaz
RA sebagai perwakilan (juru bicara). Orang-orang Yahudi meminta agar
Sa’ad bin Muaz RA diganti dengan Abu Lubaba RA. Mereka berharap Abu
Lubaba akan bersikap lebih baik karena ia memiliki anggota keluarga dan
perumahan di lingkungan yahudi itu. Permintaan ini dikabulkan oleh
Rasulullah SAW. Ketika Abu Lubaba RA sampai di tempat suku tersebut,
mereka bertanya:”Apakah jadinya nasib kami jika kami keluar begitu saja
dari tempat pertahanan ini?” Abu Lubaba, sambil menyilangkan jari di
lehernya, berkata bahwa kepala mereka akan dipenggal. Sebenarnya hal
ini adalah rahasia antara Abu Lubaba dengan Rasulullah SAW, tetapi telah
diberitahukannya kepada orang-orang Yahudi. Setelah ia meninggalkan
orang-orang Yahudi itu, barulah ia menyadari kesalahannya sehingga ia
merasa gundah (tidak nyaman). Ia kemudian mengikat dirinya di pohon
selama 7 hari 7 malam. Ia berujar bahwa tidak akan melepaskan ikatan
dirinya sehingga taubatnya diterima. Ia bersusah payah memakan apa saja
selama itu dan kelelahannya pun semakin bertambah-tambah. Ketika Nabi
Muhammad SAW telah memaklumi keadaannya, beliau bersabda:
35
”Sebenarnya ia bisa langsung datang kepadaku dan akan aku panjatkan
doa agar ia mendapatkan ampunan Allah. Kini ia telah menyerahkan
keseluruhan masalahnya dengan Allah. Maka iapun harus menunggu
sehingga Allah SWT secara langsung menerima penyesalan (taubat)-nya.”
Setelah tujuh hari berselang, Nabi SAW diberitahu oleh Allah SWT bahwa
taubat Abu Lubaba RA telah diterima-Nya. Beberapa saudara lelakinya
datang berlarian menghampiri untuk melepaskan ikatannya. Abu Lubaba
RA menolak dan memberitahu saudaranya bahwa ia lebih baik menunggu
sehingga Rasulullah SAW berbaik hati dengan tangan beliau sendiri
melepaskannya dari ikatan sebagai tanda bahwa penyesalannya telah
sepenuhnya diterima. Disini kita ditunjukkan bahwa merusak kepercayaan
(amanat) adalah persoalan yang dipandang sangat serius oleh para
sahabat Nabi dan mereka menerapkan sanksi yang sangat keras untuk
memperbaiki atau menebus kesalahannya. Bahkan sekarang ini kita bisa
melihat salah satu pilar (tiang) di masjid An-Nabawi diberi nama ‘Pilar Abu
Lubaba”. Pilar ini sebagai pengganti pohon aslinya tempat dimana Abu
Lubaba RA mengikat dirinya. Banyak orang yang berdo’a memohon
ampunan Allah SWT atas dosa-dosa mereka di dekat pilar ini dengan
(mengenang) ketulusan semangat taubatnya Abu Lubaba RA.
Perhatikanlah sekali lagi bahwa ketika nabi Muhammad SAW
mengembalikan kunci Baitullah kepada Utsman bin Thalhah, kunci
tersebut tidak mengandung nilai-jual karena hanyalah berupa besi tua.
Namun, sesungguhnya yang bernilai adalah kedudukan terhormat untuk
melayani Baitullah. Jadi, amanat mengandung arti memberi kedudukan
yang bernilai tanggung-jawab. Kita pun dapat menyimpulkan bahwa semua
kedudukan di pemerintahan atau organisasi adalah ‘amanat’. Rasulullah
SAW bersabda bahwa jika seorang pemimpin menetapkan orang-orang
lain di berbagai posisi tugas dan tanggung-jawab berdasarkan
kekerabatan (nepotisme) atau pertemanan dan mereka yang diberi tugas
tidak memiliki kemampuan dan/atau kecakapan untuk mengemban tugas
yang diberikan, maka laknat (kutukan) Allah SWT ditimpakan kepada para
pemimpin yang berbuat demikian. Shalat mereka tidak akan diterima dan
mereka akan dimasukkan kedalam api neraka.
Sebagaimana di sebutkan dalam Shahih Bukhari, Rasulullah
Muhammad SAW bersabda:
“Bilamana kamu melihat suatu tanggung-jawab diserahkan kepada
yang bukan ahlinya, maka tunggulah datangnya Hari-Kehancurannya.”
Dengan kata lain, Jika ketentuan Al-Qur’an dan Hadits ini dilanggar oleh
suatu organisasi atau pemerintahan maka tidak akan ada pertolongan
terhadap masalah-masalah yang mereka hadapi.
Lebih jauh lagi kita bisa menggaris-bawahi bahwa amanat adalah
tanggung-jawab besar dan wajib dilaksanakan sepenuhnya. Dalam hal
pengkhianatan terhadap amanat, siksa kubur pun akan berlaku. Sebagai
contoh, suatu waktu Abu-Dzar RA meminta jabatan yang bernilai
36
tanggung-jawab tinggi kepada Nabi Muhammad SAW. Beliau kemudian
bersabda, sebagaimana tertulis didalam Hadits Muslim,
“Wahai, AbuDzar, kamu seorang yang lemah dan sebuah
jabatan/kedudukan yang bernilai tanggung-jawab adalah sebuah amanat.
Dan sesungguhnya amanat akan menjadi kehinaan dan penyesalan di
Hari Pembalasan, kecuali bagi orang yang menerimanya dengan benar
dan mampu menunaikan kewajibannya dalam amanat tersebut."
Di Ayat berikutnya, Allah SWT berfirman bahwa jika kamu
menetapkan hukum diantara manusia, hendaklah ditetapkan dengan adil.
Perintah ini tidak hanya berlaku untuk para pemimpin dan birokrat, tetapi
berlaku juga untuk orang biasa. Perhatikan juga bahwa Allah SWT tidak
menggunakan kata (diantara orang beriman) ataupun
(diantara orang Islam), tetapi (diantara manusia). Ini
berarti semua orang berhak atas kesetaran keadilan. Didalam Islam tidak
dibedakan antara kawan ataupun lawan, muslim ataupun non-muslim,
warga setempat ataupun orang asing, semuanya harus memperoleh
keadilan yang sama.
Penting juga untuk diperhatikan bahwa Allah SWT menyebut hal
‘amanat’ terlebih dahulu, baru kemudian memerintahkan penegakan
keadilan hukum. Hal ini bisa dipakai sebagai pedoman bagi kita bahwa
keadilan hukum tidak dapat ditegakkan kecuali jika orang-orang yang
pantas atau cakap telah ditempatkan sesuai dengan beraneka bidang
tugas yang ada. Hal inilah yang belakangan ini tidak kita dapati (hilang)
didalam pemerintahan dan organisasi, termasuk juga organisasi masjid
dan sekolah-sekolah Islam. Jika penugasan secara jelas dan terbuka
belum dilaksanakan maka berbagai permasalahan yang ada dalam
organisasi tidak akan dapat dipecahkan.
Al-Qur’an juga menghilangkan pemikiran dan praktek yang salah
dalam hal pemberian jabatan dalam pemerintahan menurut jumlah orang
di suatu negara bagian atau propinsi. Al-Qur’an menyebutkan bahwa
jabatan bukanlah hak perorangan, melainkan sebuah perwalian (yang
dipertanggung-jawabkan) dengan Allah, dan hanya dapat diberikan
terbatas kepada orang-orang yang memenuhi persyaratan tertentu. Dalam
sebuah ayat disebutkan yang berarti syarat utama seorang
pengemban amanat itu haruslah menguasai bidangnya selain harus juga
bersifat jujur dan menjalankan ajaran islam dengan baik. Kedua syarat ini
harus dipenuhi secara bersamaan. Hal ini telah diungkapkan secara jelas
dalam kasus Nabi Musa AS, ketika beliau melihat dua gadis belia bersama
ternak mereka didekat sumur. Nabi Musa AS mengetahui bahwa banyak
orang yang datang membawa ternak mereka dan mengambil air dari
37
sumur itu, memberi minum ternak mereka dan pergi lagi. Kedua gadis tadi
sudah lama hanya berdiri agak jauh dari sumur sambil memegangi ternak
mereka. Nabi Musa AS kemudian bertanya kepada mereka, “Ada apa
dengan kalian?” Mereka menjawab, “Ayah kami sudah tua. Kami tidak bisa
mengambil air dari sumur. Kami membawa ternak kami mendekat ke
sumur setelah orang lain pergi agar ternak kami bisa minum sisa air yang
mereka tinggalkan.” Nabi Musa AS pun menimba air dari sumur dan
diberikan untuk ternak mereka hingga kenyang, lalu kedua gadis belia itu
pulang ke rumah dan meminta agar ayah mereka mempekerjakan Nabi
Musa AS untuk mengurus ternak mereka, karena mereka mendapati Nabi
Musa AS memenuhi syarat untuk pekerjaan tersebut yaitu kuat dan jujur.
Inilah kriteria untuk menyerahkan suatu amanat.
Maka aturan dasar untuk merumuskan struktur organisasi suatu
pemerintahan adalah sebagai berikut:
1. Allah SWT adalah “Pengatur yang sejati dan perintah/aturan hanyalah
dari Allah SWT semata”. Semua organisasi pemerintahan adalah wali
(pemegang amanat) Allah. Kekuasaan sejati pada sebuah negeri ada
pada Allah semata.
2. Tugas-tugas di suatu negara tidak untuk dibagikan menurut
perbandingan jumlah penduduk setiap wilayah yang berbeda. Hanya
orang-orang yang memenuhi syarat dan mampu/cakap sajalah
hendaknya yang diberi tugas sesuai bidangnya.
3. Karena manusia hanyalah wali/wakil Allah, maka dalam segala hal
mereka haruslah selalu taat/patuh kepada perintah dan petunjuk Allah
SWT.
4. Dalam hal terjadi perselisihan, keadilan harus ditegakkan tanpa
memandang ras, bahasa, warna kulit, ataupun afiliasi agama.
Sebagai penutup, kita ketahui bahwa pada waktu hijrah Rasulullah
Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah, beliau meninggalkan Ali RA di
tempat tidur beliau dan menyuruhnya agar semua amanat yang ada
dikembalikan kepada pemiliknya. Ini terjadi ketika semua suku di Makkah
telah bergandeng-tangan, bekerjasama mengepung rumah Nabi
Muhammad SAW untuk secara terang-terangan membunuh beliau.
Sebaliknya, disini Rasulullah SAW menunjukan sikap yang mulia yakni,
menjamin bahwa semua amanat yang dititipkan kepada beliau, meskipun
itu milik lawannya yang paling jahat, dalam keadaan bagaimanapun tetap
disampaikan kepada mereka yang berhak.
Semoga Allah SWT menolong kita untuk dapat menjaga amanat dan
memenuhi janji dengan semangat yang sama dengan semangat
Rasulullah SAW. Amiin.
Allah SWT berfirman dalam surat An-Nisaa’ Ayat 58:
Sesungguhnya Allah menyuruhmu menyampaikan amanat kepada
yang berhak menerimanya, dan jika kamu menetapkan hukum diantara
manusia hendaklah kamu berlaku adil. Sesungguhnya Allah telah
memberikan pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Dan Allah Maha
Medengar lagi Maha Melihat.
Ayat ini diwahyukan dalam keadaan yang sangat menarik. Seperti
diketahui bahwa sebelum penaklukan Makkah, kunci Baitullah (yakni
33
Ka’bah) dipegang oleh Utsman bin Thalhah. Pada waktu penaklukan
Makkah Nabi Muhammad SAW meminta Utsman bin Thalhah untuk
menyerahkan kunci-kunci itu kepada beliau. Utsman pun menyerahkan
kunci-kunci itu dengan enggan/ogah-ogahan seraya berkata, “Ini amanat
untukmu.” Kemudian Rasulullah SAW membuka pintu Ka’bah dan
mengeluarkan semua berhala yang ada di dalam Rumah Allah SWT itu.
Pada waktu itu, Abbas RA (paman Rasulullah) dan Ali RA meminta agar
kunci-kunci itu disimpan oleh keluarga Rasulullah. Beliau tidak
memberikannya. Sebagaimana diriwayatkan oleh Umar RA, Rasulullah
SAW keluar dari Baitullah membacakan Ayat-58 Surat An-Nisaa’. Beliau
mengembalikan kunci-kunci itu kepada Utsman bin Thalhah. Hal ini
mengejutkan Utsman, mengingat sebagai Penakluk, Rasulullah SAW bisa
tetap menyimpan kunci itu selamanya. Utsman menjadi begitu tergerak
hatinya oleh perilaku Nabi Muhammad SAW dan serta merta memeluk
Islam.
Anas RA meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad SAW selalu
menekankan pentingnya memenuhi janji/kesepakatan. Anas RA berkata
bahwa Nabi SAW jarang sekali memberikan khutbah tanpa menyebutkan
pesan berikut ini:
“Barang siapa mengkhianati amanat yang diberikan kepadanya,
sungguh ia tidak memiliki sedikitpun keimanan didalam dirinya. Barang
siapa ingkar terhadap janjinya, ia tidak memiliki citarasa hidup Islami.”
Diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA dan Umar RA didalam ‘Bukhari
dan Muslim’ bahwa, ketika menguraikan tanda-tanda orang munafik Nabi
Muhammad SAW bersabda, “Ia mengkhianati amanat yang diberikan
padanya.” Allah SWT menyebutkan beberapa prasyarat untuk masuk
surga didalam Surat Al-Mu’minun dan Al-Ma’arij. Sebagai contoh, berikut
ini adalah prasyarat yang terdapat dalam firman Allah SWT, Surat Al-
Ma’arij ayat 32-35.
Dan mereka yang menepati amanat-amanat dan janji-janjinya.
Merekapun teguh dengan kesaksian (syahadah)-nya. Mereka memelihara
shalatnya (dengan benar dan khusyu’). Mereka akan (kekal) di Surga lagi
dimuliakan.
Jadi, menepati janji atau menjaga amanat adalah serupa dengan
mengerjakan shalat dengan benar. Nabi Muhammad SAW juga bersabda
bahwa “Bermusyawarah di masyarakat hendaklah
menunjukkan sikap amanah yang menyeluruh diantara mereka.” Maka apa
yang menjadi isi musyawarah tidak boleh disampaikan kepada orang yang
tidak berkepentingan.
Serupa dengan diatas, Rasulullah SAW bersabda, “Siapapun yang
dimintai pertimbangan/nasehat hendaklah melakukannya dengan sikap
34
amanah sepenuhnya". Hendaklah ia memberikan nasehat
yang terbaik dan bermanfaat. Janganlah dengan sengaja memberi
nasehat yang salah/menyesatkan karena kalau itu dilakukannya maka ia
telah merusak kepercayaan yang diberikan. Begitu juga jika seseorang
berbagi rahasianya denganmu janganlah dibuka rahasia itu kepada orang
lain tanpa sepengetahuannya.
Marilah kita lihat bagaimana para sahabat Rasulullah SAW
menghadapi situasi seperti diatas. Ingatlah selalu bahwa para sahabat
itupun manusia biasa seperti kita dan bisa saja ‘terpeleset’ sebagaimana
manusia yang lain. Allah SWT menyebutkan situasi khusus didalam Surat
Al-Anfaal Ayat 27, 28:
Wahai orang-orang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah
dan Rasul-Nya dan jangan pula kamu mengkhianati amanat-amanat yang
dipercayakan kepadamu sedangkan kamu mengetahui. Dan ketahuilah
bahwa hartamu dan anak-anakmu adalah ujian bagimu dan sesungguhnya
disisi Allah ada pahala yang besar.
Banyak ulama mengatakan bahwa ayat ini merujuk pada satu situasi
tertentu dimana Nabi Muhammad SAW sedang mengepung Bani Quraiza
yang telah mempersenjatai diri dan membangun pertahanan diluar
perbatasan Madinah. Konflik ini berlangsung selama 21 hari, sampai
habisnya perbekalan musuh. Suku ini kemudian meminta ijin kepada
Rasulullah SAW untuk pergi ke Suriah (Syria). Beliau menolak karena
mengetahui bahwa kaum Yahudi tentu akan menyesatkan mereka ketika
berada di Syria. Beliau kemudian memberitahu mereka bahwa hendaknya
mereka menerima keputusan apapun yang diambil oleh Sa’ad bin Muaz
RA sebagai perwakilan (juru bicara). Orang-orang Yahudi meminta agar
Sa’ad bin Muaz RA diganti dengan Abu Lubaba RA. Mereka berharap Abu
Lubaba akan bersikap lebih baik karena ia memiliki anggota keluarga dan
perumahan di lingkungan yahudi itu. Permintaan ini dikabulkan oleh
Rasulullah SAW. Ketika Abu Lubaba RA sampai di tempat suku tersebut,
mereka bertanya:”Apakah jadinya nasib kami jika kami keluar begitu saja
dari tempat pertahanan ini?” Abu Lubaba, sambil menyilangkan jari di
lehernya, berkata bahwa kepala mereka akan dipenggal. Sebenarnya hal
ini adalah rahasia antara Abu Lubaba dengan Rasulullah SAW, tetapi telah
diberitahukannya kepada orang-orang Yahudi. Setelah ia meninggalkan
orang-orang Yahudi itu, barulah ia menyadari kesalahannya sehingga ia
merasa gundah (tidak nyaman). Ia kemudian mengikat dirinya di pohon
selama 7 hari 7 malam. Ia berujar bahwa tidak akan melepaskan ikatan
dirinya sehingga taubatnya diterima. Ia bersusah payah memakan apa saja
selama itu dan kelelahannya pun semakin bertambah-tambah. Ketika Nabi
Muhammad SAW telah memaklumi keadaannya, beliau bersabda:
35
”Sebenarnya ia bisa langsung datang kepadaku dan akan aku panjatkan
doa agar ia mendapatkan ampunan Allah. Kini ia telah menyerahkan
keseluruhan masalahnya dengan Allah. Maka iapun harus menunggu
sehingga Allah SWT secara langsung menerima penyesalan (taubat)-nya.”
Setelah tujuh hari berselang, Nabi SAW diberitahu oleh Allah SWT bahwa
taubat Abu Lubaba RA telah diterima-Nya. Beberapa saudara lelakinya
datang berlarian menghampiri untuk melepaskan ikatannya. Abu Lubaba
RA menolak dan memberitahu saudaranya bahwa ia lebih baik menunggu
sehingga Rasulullah SAW berbaik hati dengan tangan beliau sendiri
melepaskannya dari ikatan sebagai tanda bahwa penyesalannya telah
sepenuhnya diterima. Disini kita ditunjukkan bahwa merusak kepercayaan
(amanat) adalah persoalan yang dipandang sangat serius oleh para
sahabat Nabi dan mereka menerapkan sanksi yang sangat keras untuk
memperbaiki atau menebus kesalahannya. Bahkan sekarang ini kita bisa
melihat salah satu pilar (tiang) di masjid An-Nabawi diberi nama ‘Pilar Abu
Lubaba”. Pilar ini sebagai pengganti pohon aslinya tempat dimana Abu
Lubaba RA mengikat dirinya. Banyak orang yang berdo’a memohon
ampunan Allah SWT atas dosa-dosa mereka di dekat pilar ini dengan
(mengenang) ketulusan semangat taubatnya Abu Lubaba RA.
Perhatikanlah sekali lagi bahwa ketika nabi Muhammad SAW
mengembalikan kunci Baitullah kepada Utsman bin Thalhah, kunci
tersebut tidak mengandung nilai-jual karena hanyalah berupa besi tua.
Namun, sesungguhnya yang bernilai adalah kedudukan terhormat untuk
melayani Baitullah. Jadi, amanat mengandung arti memberi kedudukan
yang bernilai tanggung-jawab. Kita pun dapat menyimpulkan bahwa semua
kedudukan di pemerintahan atau organisasi adalah ‘amanat’. Rasulullah
SAW bersabda bahwa jika seorang pemimpin menetapkan orang-orang
lain di berbagai posisi tugas dan tanggung-jawab berdasarkan
kekerabatan (nepotisme) atau pertemanan dan mereka yang diberi tugas
tidak memiliki kemampuan dan/atau kecakapan untuk mengemban tugas
yang diberikan, maka laknat (kutukan) Allah SWT ditimpakan kepada para
pemimpin yang berbuat demikian. Shalat mereka tidak akan diterima dan
mereka akan dimasukkan kedalam api neraka.
Sebagaimana di sebutkan dalam Shahih Bukhari, Rasulullah
Muhammad SAW bersabda:
“Bilamana kamu melihat suatu tanggung-jawab diserahkan kepada
yang bukan ahlinya, maka tunggulah datangnya Hari-Kehancurannya.”
Dengan kata lain, Jika ketentuan Al-Qur’an dan Hadits ini dilanggar oleh
suatu organisasi atau pemerintahan maka tidak akan ada pertolongan
terhadap masalah-masalah yang mereka hadapi.
Lebih jauh lagi kita bisa menggaris-bawahi bahwa amanat adalah
tanggung-jawab besar dan wajib dilaksanakan sepenuhnya. Dalam hal
pengkhianatan terhadap amanat, siksa kubur pun akan berlaku. Sebagai
contoh, suatu waktu Abu-Dzar RA meminta jabatan yang bernilai
36
tanggung-jawab tinggi kepada Nabi Muhammad SAW. Beliau kemudian
bersabda, sebagaimana tertulis didalam Hadits Muslim,
“Wahai, AbuDzar, kamu seorang yang lemah dan sebuah
jabatan/kedudukan yang bernilai tanggung-jawab adalah sebuah amanat.
Dan sesungguhnya amanat akan menjadi kehinaan dan penyesalan di
Hari Pembalasan, kecuali bagi orang yang menerimanya dengan benar
dan mampu menunaikan kewajibannya dalam amanat tersebut."
Di Ayat berikutnya, Allah SWT berfirman bahwa jika kamu
menetapkan hukum diantara manusia, hendaklah ditetapkan dengan adil.
Perintah ini tidak hanya berlaku untuk para pemimpin dan birokrat, tetapi
berlaku juga untuk orang biasa. Perhatikan juga bahwa Allah SWT tidak
menggunakan kata (diantara orang beriman) ataupun
(diantara orang Islam), tetapi (diantara manusia). Ini
berarti semua orang berhak atas kesetaran keadilan. Didalam Islam tidak
dibedakan antara kawan ataupun lawan, muslim ataupun non-muslim,
warga setempat ataupun orang asing, semuanya harus memperoleh
keadilan yang sama.
Penting juga untuk diperhatikan bahwa Allah SWT menyebut hal
‘amanat’ terlebih dahulu, baru kemudian memerintahkan penegakan
keadilan hukum. Hal ini bisa dipakai sebagai pedoman bagi kita bahwa
keadilan hukum tidak dapat ditegakkan kecuali jika orang-orang yang
pantas atau cakap telah ditempatkan sesuai dengan beraneka bidang
tugas yang ada. Hal inilah yang belakangan ini tidak kita dapati (hilang)
didalam pemerintahan dan organisasi, termasuk juga organisasi masjid
dan sekolah-sekolah Islam. Jika penugasan secara jelas dan terbuka
belum dilaksanakan maka berbagai permasalahan yang ada dalam
organisasi tidak akan dapat dipecahkan.
Al-Qur’an juga menghilangkan pemikiran dan praktek yang salah
dalam hal pemberian jabatan dalam pemerintahan menurut jumlah orang
di suatu negara bagian atau propinsi. Al-Qur’an menyebutkan bahwa
jabatan bukanlah hak perorangan, melainkan sebuah perwalian (yang
dipertanggung-jawabkan) dengan Allah, dan hanya dapat diberikan
terbatas kepada orang-orang yang memenuhi persyaratan tertentu. Dalam
sebuah ayat disebutkan yang berarti syarat utama seorang
pengemban amanat itu haruslah menguasai bidangnya selain harus juga
bersifat jujur dan menjalankan ajaran islam dengan baik. Kedua syarat ini
harus dipenuhi secara bersamaan. Hal ini telah diungkapkan secara jelas
dalam kasus Nabi Musa AS, ketika beliau melihat dua gadis belia bersama
ternak mereka didekat sumur. Nabi Musa AS mengetahui bahwa banyak
orang yang datang membawa ternak mereka dan mengambil air dari
37
sumur itu, memberi minum ternak mereka dan pergi lagi. Kedua gadis tadi
sudah lama hanya berdiri agak jauh dari sumur sambil memegangi ternak
mereka. Nabi Musa AS kemudian bertanya kepada mereka, “Ada apa
dengan kalian?” Mereka menjawab, “Ayah kami sudah tua. Kami tidak bisa
mengambil air dari sumur. Kami membawa ternak kami mendekat ke
sumur setelah orang lain pergi agar ternak kami bisa minum sisa air yang
mereka tinggalkan.” Nabi Musa AS pun menimba air dari sumur dan
diberikan untuk ternak mereka hingga kenyang, lalu kedua gadis belia itu
pulang ke rumah dan meminta agar ayah mereka mempekerjakan Nabi
Musa AS untuk mengurus ternak mereka, karena mereka mendapati Nabi
Musa AS memenuhi syarat untuk pekerjaan tersebut yaitu kuat dan jujur.
Inilah kriteria untuk menyerahkan suatu amanat.
Maka aturan dasar untuk merumuskan struktur organisasi suatu
pemerintahan adalah sebagai berikut:
1. Allah SWT adalah “Pengatur yang sejati dan perintah/aturan hanyalah
dari Allah SWT semata”. Semua organisasi pemerintahan adalah wali
(pemegang amanat) Allah. Kekuasaan sejati pada sebuah negeri ada
pada Allah semata.
2. Tugas-tugas di suatu negara tidak untuk dibagikan menurut
perbandingan jumlah penduduk setiap wilayah yang berbeda. Hanya
orang-orang yang memenuhi syarat dan mampu/cakap sajalah
hendaknya yang diberi tugas sesuai bidangnya.
3. Karena manusia hanyalah wali/wakil Allah, maka dalam segala hal
mereka haruslah selalu taat/patuh kepada perintah dan petunjuk Allah
SWT.
4. Dalam hal terjadi perselisihan, keadilan harus ditegakkan tanpa
memandang ras, bahasa, warna kulit, ataupun afiliasi agama.
Sebagai penutup, kita ketahui bahwa pada waktu hijrah Rasulullah
Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah, beliau meninggalkan Ali RA di
tempat tidur beliau dan menyuruhnya agar semua amanat yang ada
dikembalikan kepada pemiliknya. Ini terjadi ketika semua suku di Makkah
telah bergandeng-tangan, bekerjasama mengepung rumah Nabi
Muhammad SAW untuk secara terang-terangan membunuh beliau.
Sebaliknya, disini Rasulullah SAW menunjukan sikap yang mulia yakni,
menjamin bahwa semua amanat yang dititipkan kepada beliau, meskipun
itu milik lawannya yang paling jahat, dalam keadaan bagaimanapun tetap
disampaikan kepada mereka yang berhak.
Semoga Allah SWT menolong kita untuk dapat menjaga amanat dan
memenuhi janji dengan semangat yang sama dengan semangat
Rasulullah SAW. Amiin.
materi 2 (Organisasi)
Bagi orang Muhammadiyah, nama tokoh Islam, perintis organisasi Muhammadiyah ini tidak
akan ada yang belum mengenalnya. Apalagi bagi mereka yang pernah mengenyam pendidikan
Muhammadiyah. Di setiap lembaga pendidikan Muhammadiyah diberikan mata pelajaran atau
mata kuliah Ke-Muhammadiyahan. Dalam materi mata pelajaran itu di antaranya diperkenalkan
pendiri dan pertis Muhammadiyah, yaitu KH.Achmad Dahlan. Selain itu, biasanya di gedung
atau kantor amal usaha Muhammadiyah dan bahkan juga di rumah-rumah para pimpinan
Muhammadiyah di pasang photo pimpinan organisasi ini. Tidak beda dengan itu, di
sekolah-sekolah yang dirintis dan dibina oleh Nahdlatul Ulama’ dipasang gambar KH.Hasyim
Asy’ari, tokoh pendiri organisasi Islam ini.
Ada cerita menarik, dari pendidikan yang dikembangkan oleh KH.Achmad Dahlan. Cerita itu
menggambarkan bagaimana KH Achmad Dahlan ingin menjadikan pelajaran agama Islam yang
diberikan kepada para siswa relevan dengan kehidupan nyata sehari-hari. Dalam cerita itu, KH
Achmad Dahlan sedemikian telaten dan tekun memberikan pelajaran kepada para siswanya
tentang surat Ma’un. Surat itu diajarkan berbulan-biulan tidak pernah ganti. Setiap Kyai datang
ke tempat belajar bagi anak-anak, hanya mengajarkan surat kesenangan Kyai itu, hingga para
santri-santrinya pun bosan.
Di mana-mana kiranya sama, apa saja yang diulang-ulang menjadikan para murid bosan.
Demikian juga santri-santri Kyai pendiri Muhammadiyah ini, merasakan bosan tatkala pada
setiap hari, dalam waktu yang lama hanya diberikan mata pelajaran itu. Sampai-sampai,
menurut cerita yang pernah saya dapatkan, apa yang dilakukan oleh Kyai Dahlan itu menjadi
bahan mainan para santrinya. Sebelum Kyai datang, para santri menebak apa yang akan
diajarkan, yakni surat al Ma’un, dan ternyata betul. Kyai mengajarkan lagi surat al Ma’un itu.
Apa yang dilakukan oleh para santri itu, ternyata pada suatu ketika ditangkap oleh Kyai. Sudah
barang tentu Kyai tidak menjadi marah, apalagi menghukumnya. Kyai tidak pernah mengukum
para santri yang mengakibatkan para santri meningalkan para gurunya. Mendengar nada bosan
yang diungkap oleh santri, tentang bahan yang diajarkan tetap sama----surat al Ma’un, lalu
kemudian kyai justru mengajak dialog para santrinya.
Kyai setelah mendengar gejala kebosanan yang dialami oleh para santri, kemudian
menanyakan kepada para santri, apakah surat al Ma’un yang dimaksud itu sudah dihafal dan
diamalkan. Para santri menjawab, bahwa surat itu telah dihafal dan diamalkan. Para santri
menjelaskan bahwa salah satu surat pendek dalam al Qur’an itu telah dijadikan bahan bacaan
pada setiap kali sholat. Atas jawaban itu, kyai lalu menjelaskan maksud daripada istilah
mengamalkan itu. Yaitu melaksanakan isi pesan surat itu dalam kehidupan sehari-hari.
Selanjutnya, agar jelas maksudnya, dan tidak salah paham lagi, maka Kyai Dahlan mengajak
para santrinya agar besuk hari ke sekolah membawa apa saja yang bisa diberikan kepada
orang miskin di kota Yogyakarta. Misalnya, uang, pakaian, sembako, dan lain-lain. Selanjutnya,
besuk harinya itu juga, tidak sebagaimana sehari-hari santri harus belajar tentang Surat al
Ma’un, tetapi dengan barang berharga yang telah dikumpulkan itu, bersama-sama menemui
orang miskin, pengemis atau gelandangan di sekitar kota. Kemudian, apa yang dibawa para
santri itu diserahkan kepada mereka.
Setelah mengajak para santri membagi-bagikan apa yang telah dikumpulan bersama itu, maka
Kyai menjelaskan bahwa itulah sesungguhnya yang dimaksud telah mengamalkan surat al
Ma’un tersebut. Istilah mengamalkan bukan saja sebatas memnghafal dan menjadikan surat
pendek dalam al Qur’an itu dibaca dalam setiap sholat, melainkan menjadikannya sebagai
pedoman dan sekaligus dijalankan dalam kehidupan sehari-hari.
Cerita pendek tentang bagaimana pendiri Muhammadiyah itu mengajarkan para santrinya,
rasanya masih sangat relevan dengan tuntutan sekarang ini. Pada saat ini, betapa sudah
semakin semarak ayat-ayat al Qur’an dijadikan bahan pelajaran, didiskusikan dan bahkan juga
dijadikan bahan kajian di kampus-kampus. Tetapi ternyata, selepas kegiatan itu belum tampak
gerakan secara signifikan untuk mengimplementasikan. Misalnya, dalam bentuk pengentasan
kemiskinan sebagaimana dilakukan oleh Kyai Aschmad Dahlan tersebut. Memang, boleh-boleh
saja ayat al Qur’an dan hadits Nabi dijadikan bahkan diskusi, wacana atau kajian, tetapi lebih
dari itu, semestinya harus ditindak lanjuti dengan bentuk pengamalan secara nyata.
Memang Islam itu harus disampaikan kepada siapapun dan selanjutnya agar melahirkan
kebahagiaan yang sebenarnya harus diamalkan. Mengajarkannya lewat penjelasan, perintah,
pesan-pesan memang penting. Tetapi agar lebih efektif hal itu memang harus diajarkan melalui
uswah hasanah. Islam tidak cukup dijadikan bahan ceramah, diskusi atau apa saja namanya,
tetapi harus diamalkan. Apa yang dicontohkan oleh Kyai Dahlan tatkala mengajarkan Surat al
Ma’un, yakni sebuah surat pendek dalam juz terakhir dari al Qur’an., rasanya masih sangat
relevan, yakni mengajarkan lewat contoh. Wallahu a’lam.
akan ada yang belum mengenalnya. Apalagi bagi mereka yang pernah mengenyam pendidikan
Muhammadiyah. Di setiap lembaga pendidikan Muhammadiyah diberikan mata pelajaran atau
mata kuliah Ke-Muhammadiyahan. Dalam materi mata pelajaran itu di antaranya diperkenalkan
pendiri dan pertis Muhammadiyah, yaitu KH.Achmad Dahlan. Selain itu, biasanya di gedung
atau kantor amal usaha Muhammadiyah dan bahkan juga di rumah-rumah para pimpinan
Muhammadiyah di pasang photo pimpinan organisasi ini. Tidak beda dengan itu, di
sekolah-sekolah yang dirintis dan dibina oleh Nahdlatul Ulama’ dipasang gambar KH.Hasyim
Asy’ari, tokoh pendiri organisasi Islam ini.
Ada cerita menarik, dari pendidikan yang dikembangkan oleh KH.Achmad Dahlan. Cerita itu
menggambarkan bagaimana KH Achmad Dahlan ingin menjadikan pelajaran agama Islam yang
diberikan kepada para siswa relevan dengan kehidupan nyata sehari-hari. Dalam cerita itu, KH
Achmad Dahlan sedemikian telaten dan tekun memberikan pelajaran kepada para siswanya
tentang surat Ma’un. Surat itu diajarkan berbulan-biulan tidak pernah ganti. Setiap Kyai datang
ke tempat belajar bagi anak-anak, hanya mengajarkan surat kesenangan Kyai itu, hingga para
santri-santrinya pun bosan.
Di mana-mana kiranya sama, apa saja yang diulang-ulang menjadikan para murid bosan.
Demikian juga santri-santri Kyai pendiri Muhammadiyah ini, merasakan bosan tatkala pada
setiap hari, dalam waktu yang lama hanya diberikan mata pelajaran itu. Sampai-sampai,
menurut cerita yang pernah saya dapatkan, apa yang dilakukan oleh Kyai Dahlan itu menjadi
bahan mainan para santrinya. Sebelum Kyai datang, para santri menebak apa yang akan
diajarkan, yakni surat al Ma’un, dan ternyata betul. Kyai mengajarkan lagi surat al Ma’un itu.
Apa yang dilakukan oleh para santri itu, ternyata pada suatu ketika ditangkap oleh Kyai. Sudah
barang tentu Kyai tidak menjadi marah, apalagi menghukumnya. Kyai tidak pernah mengukum
para santri yang mengakibatkan para santri meningalkan para gurunya. Mendengar nada bosan
yang diungkap oleh santri, tentang bahan yang diajarkan tetap sama----surat al Ma’un, lalu
kemudian kyai justru mengajak dialog para santrinya.
Kyai setelah mendengar gejala kebosanan yang dialami oleh para santri, kemudian
menanyakan kepada para santri, apakah surat al Ma’un yang dimaksud itu sudah dihafal dan
diamalkan. Para santri menjawab, bahwa surat itu telah dihafal dan diamalkan. Para santri
menjelaskan bahwa salah satu surat pendek dalam al Qur’an itu telah dijadikan bahan bacaan
pada setiap kali sholat. Atas jawaban itu, kyai lalu menjelaskan maksud daripada istilah
mengamalkan itu. Yaitu melaksanakan isi pesan surat itu dalam kehidupan sehari-hari.
Selanjutnya, agar jelas maksudnya, dan tidak salah paham lagi, maka Kyai Dahlan mengajak
para santrinya agar besuk hari ke sekolah membawa apa saja yang bisa diberikan kepada
orang miskin di kota Yogyakarta. Misalnya, uang, pakaian, sembako, dan lain-lain. Selanjutnya,
besuk harinya itu juga, tidak sebagaimana sehari-hari santri harus belajar tentang Surat al
Ma’un, tetapi dengan barang berharga yang telah dikumpulkan itu, bersama-sama menemui
orang miskin, pengemis atau gelandangan di sekitar kota. Kemudian, apa yang dibawa para
santri itu diserahkan kepada mereka.
Setelah mengajak para santri membagi-bagikan apa yang telah dikumpulan bersama itu, maka
Kyai menjelaskan bahwa itulah sesungguhnya yang dimaksud telah mengamalkan surat al
Ma’un tersebut. Istilah mengamalkan bukan saja sebatas memnghafal dan menjadikan surat
pendek dalam al Qur’an itu dibaca dalam setiap sholat, melainkan menjadikannya sebagai
pedoman dan sekaligus dijalankan dalam kehidupan sehari-hari.
Cerita pendek tentang bagaimana pendiri Muhammadiyah itu mengajarkan para santrinya,
rasanya masih sangat relevan dengan tuntutan sekarang ini. Pada saat ini, betapa sudah
semakin semarak ayat-ayat al Qur’an dijadikan bahan pelajaran, didiskusikan dan bahkan juga
dijadikan bahan kajian di kampus-kampus. Tetapi ternyata, selepas kegiatan itu belum tampak
gerakan secara signifikan untuk mengimplementasikan. Misalnya, dalam bentuk pengentasan
kemiskinan sebagaimana dilakukan oleh Kyai Aschmad Dahlan tersebut. Memang, boleh-boleh
saja ayat al Qur’an dan hadits Nabi dijadikan bahkan diskusi, wacana atau kajian, tetapi lebih
dari itu, semestinya harus ditindak lanjuti dengan bentuk pengamalan secara nyata.
Memang Islam itu harus disampaikan kepada siapapun dan selanjutnya agar melahirkan
kebahagiaan yang sebenarnya harus diamalkan. Mengajarkannya lewat penjelasan, perintah,
pesan-pesan memang penting. Tetapi agar lebih efektif hal itu memang harus diajarkan melalui
uswah hasanah. Islam tidak cukup dijadikan bahan ceramah, diskusi atau apa saja namanya,
tetapi harus diamalkan. Apa yang dicontohkan oleh Kyai Dahlan tatkala mengajarkan Surat al
Ma’un, yakni sebuah surat pendek dalam juz terakhir dari al Qur’an., rasanya masih sangat
relevan, yakni mengajarkan lewat contoh. Wallahu a’lam.
tugas 1 (MOTIVASI)
Mencapai potensi hidup yang maksimal
Setiap orang mendambakan masa depan yang lebih baik ; kesuksesan dalam karir,
rumah tangga dan hubungan sosial, namun seringkali kita terbentur oleh berbagai
kendala. Dan kendala terbesar justru ada pada diri kita sendiri.
Melalui karyanya, Joel Osteen menantang kita untuk keluar dari pola pikir yang
sempit dan mulai berpikir dengan paradigma yang baru.
Ada 7 langkah agar kita mencapai potensi hidup yang maksimal :
* Langkah pertama adalah perluas wawasan. Anda harus memandang kehidupan ini
dengan mata iman, pandanglah dirimu sedang melesat ke level yang lebih tinggi.
Anda harus memiliki gambaran mental yang jelas tentang apa yang akan Anda raih.
Gambaran ini harus menjadi bagian dari dirimu, didalam benakmu, dalam percakapanmu,
meresap ke pikiran alam bawah sadarmu, dalam perbuatanmu dan dalam setiap
aspek kehidupanmu.
* Langkah ke dua adalah mengembangkan gambar diri yang sehat. Itu artinya Anda harus
melandasi gambar dirimu diatas apa yang Tuhan katakan tentang Anda.
Keberhasilanmu meraih tujuan sangat tergantung pada bagaimana Anda memandang
dirimu sendiri dan apa yang Anda rasakan tentang dirimu. Sebab hal itu akan menentukan
tingkat kepercayaan diri Anda dalam bertindak. Fakta menyatakan bahwa Anda tidak akan
pernah melesat lebih tinggi dari apa yang Anda bayangkan mengenai dirimu sendiri
* Langkah ke tiga adalah temukan kekuatan dibalik pikiran dan perkataanmu.
Target utama serangan musuh adalah pikiranmu. Ia tahu sekiranya ia
berhasil mengendalikan dan memanipulasi apa yang Anda pikirkan, maka ia
akan berhasil mengendalikan dan memanipulasi seluruh kehidupanmu.
Pikiran menentukan prilaku, sikap dan gambar diri. Pikiran menentukan tujuan.
Alkitab memperingatkan kita untuk senantiasa menjaga pikiran.
* Langkah ke empat adalah lepaskan masa lalu, biarkanlah ia pergi...
Anda mungkin saja telah kehilangan segala yang tidak seorangpun patut mengalaminya
dalam hidup ini. Jika Anda ingin hidup berkemenangan , Anda tidak boleh memakai
trauma masa lalu sebagai dalih untuk membuat pilihan-pilihan yang buruk saat ini.
Anda harus berani tidak menjadikan masa lalu sebagai alasan atas sikap burukmu
selama ini, atau membenarkan tindakanmu untuk tidak mengampuni seseorang.
* Langkah ke lima adalah temukan kekuatan di dalam keadaan yang paling buruk sekalipun
Kita harus bersikap :" Saya boleh saja terjatuh beberapa kali dalam hidup ini, tetapi
tetapi saya tidak akan terus tinggal dibawah sana." Kita semua menghadapi
tantangan dalam hidup ini . KIta semua pasti mengalami hal-hal yang datang
menyerang kita. Kita boleh saja dijatuhkan dari luar, tetapi kunci untuk hidup
berkemenangan adalah belajar bagaimana untuk bangkit lagi dari dalam.
* Langkah ke enam adalah memberi dengan sukacita. Salah satu tantangan terbesar
yang kita hadapi adalah godaan untuk hidup mementingkan diri sendiri.
Sebab kita tahu bahwa Tuhan memang menginginkan yang terbaik buat kita,
Ia ingin kita makmur, menikmati kemurahanNya dan banyak lagi yang Ia sediakan buat kita,
namun kadang kita lupa dan terjebak dalam prilaku mementingkan diri sendiri.
Sesungguhnya kita akan mengalami lebih banyak sukacita dari yang pernah dibayangkan
apabila kita mau berbagi hidup dengan orang lain.
* Langkah ke tujuh adalah memilih untuk berbahagia hari ini. Anda tidak harus menunggu
sampai semua persoalanmu terselesaikan. Anda tidak harus menunda kebahagiaan
sampai Anda mencapai semua sasaranmu. Tuhan ingin Anda berbahagia apapun kondisimu,
sekarang juga !
Setiap orang mendambakan masa depan yang lebih baik ; kesuksesan dalam karir,
rumah tangga dan hubungan sosial, namun seringkali kita terbentur oleh berbagai
kendala. Dan kendala terbesar justru ada pada diri kita sendiri.
Melalui karyanya, Joel Osteen menantang kita untuk keluar dari pola pikir yang
sempit dan mulai berpikir dengan paradigma yang baru.
Ada 7 langkah agar kita mencapai potensi hidup yang maksimal :
* Langkah pertama adalah perluas wawasan. Anda harus memandang kehidupan ini
dengan mata iman, pandanglah dirimu sedang melesat ke level yang lebih tinggi.
Anda harus memiliki gambaran mental yang jelas tentang apa yang akan Anda raih.
Gambaran ini harus menjadi bagian dari dirimu, didalam benakmu, dalam percakapanmu,
meresap ke pikiran alam bawah sadarmu, dalam perbuatanmu dan dalam setiap
aspek kehidupanmu.
* Langkah ke dua adalah mengembangkan gambar diri yang sehat. Itu artinya Anda harus
melandasi gambar dirimu diatas apa yang Tuhan katakan tentang Anda.
Keberhasilanmu meraih tujuan sangat tergantung pada bagaimana Anda memandang
dirimu sendiri dan apa yang Anda rasakan tentang dirimu. Sebab hal itu akan menentukan
tingkat kepercayaan diri Anda dalam bertindak. Fakta menyatakan bahwa Anda tidak akan
pernah melesat lebih tinggi dari apa yang Anda bayangkan mengenai dirimu sendiri
* Langkah ke tiga adalah temukan kekuatan dibalik pikiran dan perkataanmu.
Target utama serangan musuh adalah pikiranmu. Ia tahu sekiranya ia
berhasil mengendalikan dan memanipulasi apa yang Anda pikirkan, maka ia
akan berhasil mengendalikan dan memanipulasi seluruh kehidupanmu.
Pikiran menentukan prilaku, sikap dan gambar diri. Pikiran menentukan tujuan.
Alkitab memperingatkan kita untuk senantiasa menjaga pikiran.
* Langkah ke empat adalah lepaskan masa lalu, biarkanlah ia pergi...
Anda mungkin saja telah kehilangan segala yang tidak seorangpun patut mengalaminya
dalam hidup ini. Jika Anda ingin hidup berkemenangan , Anda tidak boleh memakai
trauma masa lalu sebagai dalih untuk membuat pilihan-pilihan yang buruk saat ini.
Anda harus berani tidak menjadikan masa lalu sebagai alasan atas sikap burukmu
selama ini, atau membenarkan tindakanmu untuk tidak mengampuni seseorang.
* Langkah ke lima adalah temukan kekuatan di dalam keadaan yang paling buruk sekalipun
Kita harus bersikap :" Saya boleh saja terjatuh beberapa kali dalam hidup ini, tetapi
tetapi saya tidak akan terus tinggal dibawah sana." Kita semua menghadapi
tantangan dalam hidup ini . KIta semua pasti mengalami hal-hal yang datang
menyerang kita. Kita boleh saja dijatuhkan dari luar, tetapi kunci untuk hidup
berkemenangan adalah belajar bagaimana untuk bangkit lagi dari dalam.
* Langkah ke enam adalah memberi dengan sukacita. Salah satu tantangan terbesar
yang kita hadapi adalah godaan untuk hidup mementingkan diri sendiri.
Sebab kita tahu bahwa Tuhan memang menginginkan yang terbaik buat kita,
Ia ingin kita makmur, menikmati kemurahanNya dan banyak lagi yang Ia sediakan buat kita,
namun kadang kita lupa dan terjebak dalam prilaku mementingkan diri sendiri.
Sesungguhnya kita akan mengalami lebih banyak sukacita dari yang pernah dibayangkan
apabila kita mau berbagi hidup dengan orang lain.
* Langkah ke tujuh adalah memilih untuk berbahagia hari ini. Anda tidak harus menunggu
sampai semua persoalanmu terselesaikan. Anda tidak harus menunda kebahagiaan
sampai Anda mencapai semua sasaranmu. Tuhan ingin Anda berbahagia apapun kondisimu,
sekarang juga !
Jumat, 19 Juni 2009
ANTARA CINTA DAN PERSAHABATAN
ANTARA CINTA DAN PERSAHABATAN
Dua sisi yang saling berkaitan satu dengan lainnya.Ya, antara Cinta dengan Persahabatan.Mampukah anda membayangkan Persahabatan tanpa Cinta?
Persahabatan dan Cinta adalah teman terbaik karena dimana ada Cinta, Persahabatan selalu berada disampingnya. Dan dimana Persahabatan berada, Cinta selalu tersenyum ceria dan tidak pernah meninggalkan Persahabatan.Pada suatu hari, Persahaatan mula berpikir bahwa Cinta telah membuat dirinya tidak mendapat perhatian lagi karena Persahabatan menganggap Cinta lebih menarik daripada dirinya.
Seandainya tidak ada Cinta, mungkin aku akan menjadi lebih terkenal, dan lebih banyak orang memberi perhatian kepadaku. pikir si Persahabatan. Sejak hari itu, Persahabatan memusuhi Cinta. Ketika Cinta bermain bersama Persahabatan seperti selalu, Persahabatan akan menjauhi Cinta. Apabila Cinta bertanya kenapa Persahabatan menjauhi dirinya, Persahabatan hanya memalingkan wajahnya dan beredar pergi meninggalkan Cinta.
Kesedihan pun menghampiri Cinta dan Cinta tidak sanggup menahan air matanya dan menangis. Kesedihan hanya dapat memandang Cinta yang kehilangan teman baiknya. Beberapa hari tanpa Cinta, Persahabatan mulai bergaul rapat dengan Kecewa, Putus asa, Kemarahan dan Kebencian.
Persahabatan mulai kehilangan sifat manisnya dan orang-orang mulai tidak menyukai Persahabatan. Persahabatan mulai dijauhi dan tidak lagi disukai.Walaupun Persahabatan cantik, tetapi sifatnya mulai memuakkan.Persahabatan menyadari bahwa dirinya tidak lagi disukai lantaran banyak orang yang menjauhinya. Persahabatan mulai menyesali keadaannya, dan saat itulah Kesedihan melihat Persahabatan, dan menyampaikan kepada Cinta bahwa Persahabatan sedang dalam kedukaan.
Dengan segera Cinta berlari dan menghampiri Persahabatan. Saat Persahabatan melihat Cinta menghampiri dirinya, dengan air mata yang berlinang Persahabatan pun meluapkan seribu penyesalannya meninggalkan Cinta.
Persahabatan dan Cinta kembali menjadi teman baik. Persahabatan kembali kepada pribadi yang menyenangkan dan Cinta pun kembali tersenyum ceria. Semua orang melihat kembali kedua teman baik itu sebagai berkat dan anugerah dalam kehidupan.
Moral:Mampukah Persahabatan tanpa Cinta?Mampukah Cinta tanpa Persahabatan?
Sering kali ditemui banyak orang yang coba memisahkan Persahabatan dan Cinta karena mereka berfikir, Kalau Persahabatan sudah disulami dengan Cinta, pasti akan jadi sulit. Terutama bagi mereka yang menjalin persahabatan antara seorang pria dan wanita.
Persahabatan merupakan bentuk hubungan yang indah antara manusia, di mana Cinta hadir untuk memberikan senyumnya dan mewarnai Persahabatan. Tanpa Cinta, Persahabatan mungkin akan diisi dengan Kecewa, Benci, Marah dan berbagai hal yang membuat Persahabatan tidak lagi indah. Berhentilah membuat batas antara Cinta dan Persahabatan, biarkan mereka tetap menjadi Teman baik. Yang harus diluruskan adalah Cinta bukanlah perusak Persahabatan, Cinta memperindah persahabatan anda.
Seringkali Cinta cuma dijadikan kambing hitam sebagai perusak sebuah persahabatan. ITU SALAH BESAR !!! Seharusnya dengan adanya Cinta, persahabatan akan semakin menyenangkan. Buat teman-teman yang sedang menjalin Persahabatan. Penuhilah persahabatanmu dengan Cinta, berikanlah Cinta yang terbaik untuk sahabatmu.
Buat teman-teman yang sedang mengalami guncangan dalam persahabatan, jangan salahkan Cinta! Tetapi cobalah perbaiki persahabatanmu dengan cinta karena cinta akan menutupi segala kesalahan, mengampuni dengan mudah dan membuat segala sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin.
Buat teman-teman yang belum mengerti arti Persahabatan, cobalah memulai sebuah persahabatan. Dengan persahabatan kalian akan semakin dewasa, tidak egois dan belajar untuk mengerti bahwa segala sesuatu tidak selalu terjadi sesuai dengan keinginan kita.
Buat teman-teman yang sedang kecewa dengan Persahabatan. Renungkanlah;?Apakah saya sudah menjalani Persahabatan dengan benar??Dan cobalah memahami arti persahabatan buat hidupmu. Keinginan, semangat, pengertian, kematangan, kelemah lembutan dan segala hal yang baik akan engkau temui dalam persahabatan
I LOVING ALL YOUR FRIEND’S
Dua sisi yang saling berkaitan satu dengan lainnya.Ya, antara Cinta dengan Persahabatan.Mampukah anda membayangkan Persahabatan tanpa Cinta?
Persahabatan dan Cinta adalah teman terbaik karena dimana ada Cinta, Persahabatan selalu berada disampingnya. Dan dimana Persahabatan berada, Cinta selalu tersenyum ceria dan tidak pernah meninggalkan Persahabatan.Pada suatu hari, Persahaatan mula berpikir bahwa Cinta telah membuat dirinya tidak mendapat perhatian lagi karena Persahabatan menganggap Cinta lebih menarik daripada dirinya.
Seandainya tidak ada Cinta, mungkin aku akan menjadi lebih terkenal, dan lebih banyak orang memberi perhatian kepadaku. pikir si Persahabatan. Sejak hari itu, Persahabatan memusuhi Cinta. Ketika Cinta bermain bersama Persahabatan seperti selalu, Persahabatan akan menjauhi Cinta. Apabila Cinta bertanya kenapa Persahabatan menjauhi dirinya, Persahabatan hanya memalingkan wajahnya dan beredar pergi meninggalkan Cinta.
Kesedihan pun menghampiri Cinta dan Cinta tidak sanggup menahan air matanya dan menangis. Kesedihan hanya dapat memandang Cinta yang kehilangan teman baiknya. Beberapa hari tanpa Cinta, Persahabatan mulai bergaul rapat dengan Kecewa, Putus asa, Kemarahan dan Kebencian.
Persahabatan mulai kehilangan sifat manisnya dan orang-orang mulai tidak menyukai Persahabatan. Persahabatan mulai dijauhi dan tidak lagi disukai.Walaupun Persahabatan cantik, tetapi sifatnya mulai memuakkan.Persahabatan menyadari bahwa dirinya tidak lagi disukai lantaran banyak orang yang menjauhinya. Persahabatan mulai menyesali keadaannya, dan saat itulah Kesedihan melihat Persahabatan, dan menyampaikan kepada Cinta bahwa Persahabatan sedang dalam kedukaan.
Dengan segera Cinta berlari dan menghampiri Persahabatan. Saat Persahabatan melihat Cinta menghampiri dirinya, dengan air mata yang berlinang Persahabatan pun meluapkan seribu penyesalannya meninggalkan Cinta.
Persahabatan dan Cinta kembali menjadi teman baik. Persahabatan kembali kepada pribadi yang menyenangkan dan Cinta pun kembali tersenyum ceria. Semua orang melihat kembali kedua teman baik itu sebagai berkat dan anugerah dalam kehidupan.
Moral:Mampukah Persahabatan tanpa Cinta?Mampukah Cinta tanpa Persahabatan?
Sering kali ditemui banyak orang yang coba memisahkan Persahabatan dan Cinta karena mereka berfikir, Kalau Persahabatan sudah disulami dengan Cinta, pasti akan jadi sulit. Terutama bagi mereka yang menjalin persahabatan antara seorang pria dan wanita.
Persahabatan merupakan bentuk hubungan yang indah antara manusia, di mana Cinta hadir untuk memberikan senyumnya dan mewarnai Persahabatan. Tanpa Cinta, Persahabatan mungkin akan diisi dengan Kecewa, Benci, Marah dan berbagai hal yang membuat Persahabatan tidak lagi indah. Berhentilah membuat batas antara Cinta dan Persahabatan, biarkan mereka tetap menjadi Teman baik. Yang harus diluruskan adalah Cinta bukanlah perusak Persahabatan, Cinta memperindah persahabatan anda.
Seringkali Cinta cuma dijadikan kambing hitam sebagai perusak sebuah persahabatan. ITU SALAH BESAR !!! Seharusnya dengan adanya Cinta, persahabatan akan semakin menyenangkan. Buat teman-teman yang sedang menjalin Persahabatan. Penuhilah persahabatanmu dengan Cinta, berikanlah Cinta yang terbaik untuk sahabatmu.
Buat teman-teman yang sedang mengalami guncangan dalam persahabatan, jangan salahkan Cinta! Tetapi cobalah perbaiki persahabatanmu dengan cinta karena cinta akan menutupi segala kesalahan, mengampuni dengan mudah dan membuat segala sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin.
Buat teman-teman yang belum mengerti arti Persahabatan, cobalah memulai sebuah persahabatan. Dengan persahabatan kalian akan semakin dewasa, tidak egois dan belajar untuk mengerti bahwa segala sesuatu tidak selalu terjadi sesuai dengan keinginan kita.
Buat teman-teman yang sedang kecewa dengan Persahabatan. Renungkanlah;?Apakah saya sudah menjalani Persahabatan dengan benar??Dan cobalah memahami arti persahabatan buat hidupmu. Keinginan, semangat, pengertian, kematangan, kelemah lembutan dan segala hal yang baik akan engkau temui dalam persahabatan
I LOVING ALL YOUR FRIEND’S
ANTARA CINTA DAN PERSAHABATAN
Sahabat adalah keperluan jiwa, yang mesti dipenuhi.Dialah pengisi hati, yang kau beri dengan kasih dan kau tuangkan dengan penuh rasa terima kasih.
Dan dia pulalah naungan dan kesepianmu.Karena kau menghampirinya saat hati lupa dan mencarinya saat jiwa mau maresakan kedamaian.
Bilamana dia diam,hatimu berhenti dari mendengar hatinya; kerana tanpa ungkapan kata, dalam persahabatan, segala fikiran, hasrat, dan keinginan dilahirkan dengan kegembiraan tiada terkirakan.
Di kala berpisah dengan sahabat, mungkin kau akan berdukacita;Karena yang paling kau kasihi dalam dirinya, mungkin kau lihat lebih jelas dalam ketiadaannya, bagai sebuah gunung bagi seorang pendaki, nampak lebih agung daripada tanah dataran.
Persahabatan tidak memandang, udah berapa banyak yang udah kita berikan ke teman teman kita. Persahabatan adalah bukan siapa kamu siapa saya. Persahabatan adalah yang bisa memegang rahasia pribadi
Dan tiada maksud lain dari persahabatan kecuali saling memperkaya jiwa kita dan saling berpegang erat serta menjalin silaturahmi.
Karena cinta yang mencari sesuatu di luar jangkauan misterinya, bukanlah cinta , tetapi sebuah jaring yang ditebarkan: hanya menangkap yang tiada diharapkan.
Dan persembahkanlah yang terindah bagi sahabatmu.Jika dia harus tahu saat kamu dalam keadaan sedih, dan dia pula harus tahu saat kamu dalam keadaan senang supaya persahabatan kalian tidak akan bercerai berai karena tidak adanya pengertian kamu.Carilah sahabatmu untuk meramaikan hari-hari mu!Karena dialah yang bisa mengisi kekuranganmu, bukan mengisi kekosonganmu.Dan dalam manisnya persahabatan, biarkanlah ada tawa ria dan mengisi harinya dengan kegembiraan..Karena dalam titisan kecil embun pagi, hati manusia menemui fajar dan ghairah segar kehidupan.
Dan dia pulalah naungan dan kesepianmu.Karena kau menghampirinya saat hati lupa dan mencarinya saat jiwa mau maresakan kedamaian.
Bilamana dia diam,hatimu berhenti dari mendengar hatinya; kerana tanpa ungkapan kata, dalam persahabatan, segala fikiran, hasrat, dan keinginan dilahirkan dengan kegembiraan tiada terkirakan.
Di kala berpisah dengan sahabat, mungkin kau akan berdukacita;Karena yang paling kau kasihi dalam dirinya, mungkin kau lihat lebih jelas dalam ketiadaannya, bagai sebuah gunung bagi seorang pendaki, nampak lebih agung daripada tanah dataran.
Persahabatan tidak memandang, udah berapa banyak yang udah kita berikan ke teman teman kita. Persahabatan adalah bukan siapa kamu siapa saya. Persahabatan adalah yang bisa memegang rahasia pribadi
Dan tiada maksud lain dari persahabatan kecuali saling memperkaya jiwa kita dan saling berpegang erat serta menjalin silaturahmi.
Karena cinta yang mencari sesuatu di luar jangkauan misterinya, bukanlah cinta , tetapi sebuah jaring yang ditebarkan: hanya menangkap yang tiada diharapkan.
Dan persembahkanlah yang terindah bagi sahabatmu.Jika dia harus tahu saat kamu dalam keadaan sedih, dan dia pula harus tahu saat kamu dalam keadaan senang supaya persahabatan kalian tidak akan bercerai berai karena tidak adanya pengertian kamu.Carilah sahabatmu untuk meramaikan hari-hari mu!Karena dialah yang bisa mengisi kekuranganmu, bukan mengisi kekosonganmu.Dan dalam manisnya persahabatan, biarkanlah ada tawa ria dan mengisi harinya dengan kegembiraan..Karena dalam titisan kecil embun pagi, hati manusia menemui fajar dan ghairah segar kehidupan.
Langgan:
Entri (Atom)
